Kamis, 20 Maret 2014

Studi Tumbuhan Liana dan Epifit dan hubungannya dengan tanaman induk

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HUTAN
Studi Tumbuhan Liana dan Epifit dan hubungannya dengan tanaman induk




OLEH : KELOMPOK 10

1.       MUHAMMAD ILYAS BAHRI R.                                  (D1D012029)



PROGRAM STUDI      : KEHUTANAN


DOSEN PENGAMPU   :              Nursanti S.Hut, M.Si
                                               









FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Dalam hubungan kemasyarakatan adanya saling ketergantungan antara satu individu dengan indivdu lain dinamakan hubungan sosial. Karena setiap individu tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa adanya bantuan dengan individu lain. Itu sebabnya individu saling tolong-menolong dalam mempertahankan kehidupan. Seperti seorang manusia yang masih dibantu untuk makan ketika ia masih kecil, hingga dia dewasa terus membutuhkan bantuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan.
Begitu juga dalam masyarakat hutan adanya saling tolong-menolong antara individu dengan individu maupun individu dengan individu lain. Pohon juga memerlukan bantuan pohon lain untuk hidup seperti bulian yang butuh naungan dari pohon lain saat penyemaiannya, begitu juga dengan pohon-pohon yang lain.
Salah satu dari hubungan sosial pada masyarakat hutan adalah hubungan antara pohon dengan liana atau dengan efipit. Liana atau efipit ini berada pada tanaman induk yang memiliki hubungan tertentu dari kedua belah pihak. Tumbuhan liana dan efipit melekat pada pohon induk dengan liana menumpang hidup pada induknya.
Perbedaan liana dan efipit terletak pada akarnya. Yaitu pada liana akarnya akan menancap ketanah batangnya yang melekat pada tumbuhan induk sedangkan pada efipit akarnya tidak menancap ketanah melainkan menempel pada batang dan menangkap debu-debu di udara.
            Tentunya dari hubungan ini adanya pengaruh dari salah satu individu. Seperti pertumbuhan tumbuhan induk terganggu serta adanya kompetisi dalam cahaya maupun air. Tetapi ada juga untung bagi liana tersebut seperti tanaman induk membantu liana mendapatkan cahaya matahari pada hutan serta tempat tumbuh bagi efipit.
 




1.2  Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui hubungan dari liana, efipit dan tanaman induknya
2.      Dapat mengetahui manfaat liana atau efipit pada tanaman induk
3.      Dapat mengetahui tanaman-tanaman yang berhubungan dengan liana dan efipit.




























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA







           































BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

            Praktikum mengenai “Studi Tumbuhan Liana dan Epifit dan hubungannya dengan tanaman induk di Hutan kampus UNJA Mendalo” ini sekitar Hutan Sekunder Universitas Jambi, Mendalo Darat, Kabupaten Muaro Jambi. Materi praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 10 Oktober 2013, dimulai pada pukul 10.00 WIB sampai dengan pukul 12.30 WIB.

3.2  Alat dan Bahan
                Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut :

1.      Alat tulis
2.      Tali rafia
3.      Kamera
4.      Meteran ukuran 100m




3.3 Prosedur Praktikum
1. Dibuat petakan dengan ukuran 20 x 100 m pada areal lahan hutan sekunder UNJA Mendalo.
2. Didicatat jenis Liana atau Eifipt serta strangler yang dijumpai pada petakan
3. Dicatat juga pohon inang yang menpunyai hubungan dengan liana dan epifit tersebut.
4.  diambil dokumentasi dari liana dan epifit beserta pohon inangnya. 


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
          Adapun hasil yang dapat di capai pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

A.    Ekosistem Hutan Sekunder
No
Tanaman/Hewan yang ditemukan
Jumlah
Klasifikasi
1
Medang Sendok
1
Pohon
2
Muaro Nyelai
1
Pohon
3
Medang Kuning
1
Pohon
4
Medang Keladi
1
Pancang
5
Antui
1
Tiang
6
Kepala tupai
5

7
Liana
banyak

8
Semut
Banyak
Serangga
9
Nyamuk
banyak
Serangga
10
Laba-laba
1
Artrophoda
11
Kumbang
1
Serangga


B.     Ekosistem Semak Belukar
No
Tanaman/Hewan yang ditemukan
Jumlah
Klasifikasi
1
Senduduk (Melastoma malabathricum)
27
perdu
2
Tebu gajah
19

3
Ilalang
1
semak
4
Paku pakuan
Banyak
Paku-pakuan
5
Lalang (Imperata cylindrica)
Banyak
Semak
6
Tumbuhan 1
1
Perdu
7
Tumbuhan 2

1
Perdu
8
Sejenis putri malu
1
Semak
9
Rumput liar
banyak
Rumput-rumputan


C.     Perbedaan suhu dan kelembaban ekosistem hutan sekunder dan ekosistem semak belukar

waktu
Suhu

Kelembaban
Ek. hutan sekunder
Ek. Semak
Ek. hutan sekunder
Ek. Semak
Pagi
26oC
28oC
80%
80%
Siang
31oC
34oC
58%
49%
Sore
30oC
32oC
68%
62%


4.2 Pembahasan

          Dalam praktikum ini, pengamatan dilakukan pada ekosistem Hutan Sekunder yaitu lingkugan hutan kampus Unja Mendalo, serta ekosistem semak belukar disekitar lahan pertanian Unja Mendalo.
            Hasil yang dari praktikum ini yaitu berbedanya ekosistem hutan sekunder dengan ekosisten semak belukar. Flora dan fauna juga berbeda pada setiap ekosistem. Pada ekosistem hutan sekunder terdapat tumbuhan besar seperti medang sendok, tetapi pada ekosistem semak belukar tidak terdapat tumbuhan besar. 
            Ekosistem hutan sekunder memiliki lapisan-lapisan yang bisa disebut tegakan. Terdapat hingga canopy layer dari tegakan-tegakan yang dibangun oleh tumbuhan-tumbuhan yang hidup pada hutan sekunder. Lapisan bawah dari hutan sekunder tidak ditumbuhi begitu banyak tumbuhan, hanya seresah daun saja mengering yang melapisi lantai hutan.
            Pada ekosistem semak belukar. Dapat dijumpai tumbuhan yang mendominasi adalah jenis-jenis pioner yang tahan terhadap tanah gersang serta cahaya matahari. Tidak ada pohon-ponon besar tumbuh pada ekosistem semak belukar. Lantai dari ekosistem semak dapat menyebabkan kaki terkena goresan-goresan rumput yang memiliki duri-duri pada daun tumbuhan-tumbuhan semak.
            Keadaan lingkungan pada ekosistem semak tentunya berbeda dengan ekosistem hutan sekunder. Suhu lebih rendah pada ekosistem hutan daripada ekosistem semak. Hal ini dikarenakan cahaya matahari tidak langsung masuk ke lantai hutan sekunder. Tetapi bila seseorag berdiri pada lahan semak cahaya dapat langsung mengenai orang tersebut, sehingga panas terasa. Begitu juga kelembaban semakin tinggi suhu tentunya semakin rendah kelembaban, hal ini terjadi pada kedua ekosistem yang diamati. Ekosistem hutan dengan suhu rendah memiliki kelembaban yang tinggi pada pagi hari yaitu 80%-90% .
            Hewan yang mendominasi pada hutan sekunder ialah nyamuk yang suka pada tempat lembab dan kering, terhindar dari cahaya matahari. Sedangkan pada semak tidak ditemukan nyamuk karena tempatnya yang lebih panas dari hutan sekunder.




BAB V
KESIMPULAN

1.      Tumbuhan yang dijumpai pada ekosistem hutan sekunder berbeda dengan tumbuhan ekosistem semak, pada ekosistem hutan terdapat tumbuhan berkayu yang tingginya mecapat 20-30 m, sedangkan pada ekosistem semak hanya perdu dan semak yang ditemukan.
2.      Lantai hutan dengan lantai semak juga berbeda, hutan memiliki lantai yang dipenuhi serasah dan dedaunan yang telah gugur sedangkan semak terdapat rumput-rumput bergdaun duri sehingga dapat melukai kaki seseorang.
3.      Keadaan lingkungan dan suhu pada hutan lebih sejuk dibandingkan dengan suhu pada sema, serta kelembaban hutan lebih tinggi dari kelembaban semak.


SARAN

1.      Dalam melakukan pengamatan ke lapangan jangan lupa menggunakan pengaman supaya terjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan.
2.      Saling menjaga satu dengan yang lainnya bila dalam masalah dan jangan merusak ekosistem yang diamati karena dapat mengganggu jaring-jaring makanan.








DAFTAR PUSTAKA

Parjatmo, Widjaja. 1987. Biologi Umum I. Bandung: Angkasa.
Rahardjanto. 2001. Ekologi Tumbuhan. Malang: UMM.
Saktiyono. 1999. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Tim Dosen Pembina. 2012. Petunjuk Praktikum Biologi Dasar. Jember: Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan Universitas Jember.


















LAMPIRAN DOKUMENTASI
                HUTAN SEKUNDER







                Ekosistem Semak belukar
 


0 komentar:

Posting Komentar

 
;